Majene, 15 Agustus 2026 — Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menghadirkan Prof. Dr. Muzakkir, M.Kes., Dekan FIKES Unsulbar periode 2014–2025, sebagai pembicara orasi ilmiah dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026. Mengusung tema “Transformasi Teknologi: Dampak terhadap Budaya dan Karakter Manusia di Lingkungan Pendidikan”, orasi yang digelar di Aula Mini Unsulbar, Sabtu (15/8), ini dihadiri ratusan mahasiswa baru.
Dalam paparannya, Guru Besar bidang Sosiologi Kesehatan lulusan Universitas Negeri Makassar tersebut menegaskan bahwa transformasi digital tidak hanya mengubah cara belajar dan mengajar, tetapi juga menggeser nilai budaya dan karakter generasi muda.
Data yang Menjadi Alarm
Prof. Muzakkir membeberkan sejumlah data yang menurutnya patut menjadi perhatian bersama dunia pendidikan:
- 93% remaja Indonesia usia 13–19 tahun aktif menggunakan media sosial setiap hari, dengan rata-rata durasi 5,8 jam per hari.
- 35% remaja di sejumlah daerah menunjukkan tanda-tanda kecanduan media sosial.
- 34,8% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental (Survei I-NAMHS, 2022).
- 8,2% penduduk Indonesia usia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional.
“Dunia pendidikan saat ini berada di persimpangan digital. Teknologi ibarat pisau bermata dua di satu sisi membuka peluang besar, di sisi lain menimbulkan risiko baru jika tidak dikelola dengan bijak,” ujar Prof. Muzakkir.
Dua Sisi Mata Uang Teknologi
Prof. Muzakkir menguraikan dampak transformasi teknologi dari dua arah. Di sisi positif, teknologi mempercepat akses informasi, memungkinkan pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar masing-masing individu, membuka ruang kolaborasi lintas wilayah dan negara, serta mendorong kreativitas dan inovasi.
Namun di sisi lain, ia mengingatkan risiko yang menyertainya: ketergantungan pada gawai yang menggerus konsentrasi, berkurangnya interaksi tatap muka yang melemahkan empati, maraknya plagiarisme dan ketidakjujuran akademik, hingga erosi nilai budaya lokal akibat derasnya arus budaya global.
Budaya Belajar yang Bergeser
Menurut Prof. Muzakkir, pergeseran ini terlihat jelas dalam keseharian kampus. Sumber belajar yang dulu bertumpu pada buku cetak dan dosen kini beralih ke internet, video, dan kecerdasan buatan (AI). Interaksi yang semula berlangsung tatap muka bergeser ke ruang chat dan media sosial. Nilai yang dulu ditekankan kesabaran dan ketekunan kini berganti menjadi kecepatan dan efisiensi instan.
“Karakter seperti empati, integritas, kemandirian berpikir kritis, dan kesantunan budaya lokal harus tetap dijaga. Teknologi hanyalah alat, karakter dan empati tetap menjadi fondasi utama manusia,” tegasnya.
Lima Pesan untuk Mahasiswa Baru
Mengakhiri orasinya, Prof. Muzakkir menitipkan lima pesan agar mahasiswa baru mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan nilai kemanusiaan:
- Gunakan teknologi dengan sadar dan bertujuan — tetapkan niat yang jelas setiap kali membuka aplikasi atau media sosial.
- Jaga batas waktu layar yang sehat — sisihkan waktu bebas gawai, terutama sebelum tidur dan saat bersama keluarga.
- Manfaatkan sisi positif teknologi — gunakan aplikasi kesehatan mental dan layanan teleterapi ketika dibutuhkan.
- Perkuat dukungan sosial nyata — jaga hubungan tatap muka sebagai pelengkap interaksi digital.
- Lakukan digital detox, aktivitas fisik, dan konsultasi profesional jika mengalami gangguan kesehatan mental.
Orasi ilmiah ini mendapat sambutan antusias dari peserta PKKMB yang memenuhi Aula Mini Unsulbar. Acara ditutup dengan penyerahan sertifikat secara virtual oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Dr. Habibi, SKM.,M.Kes ke Prof. Muzakkir yang menjadi penanda semangat kegiatan PKKMB tahun ini: “Teknologi maju, karakter tetap menjadi kompas. Bijak berteknologi, sehat secara mental.”

