Oleh: Dea Anggriani, Lisa Indriani, Roha Srikandi (Mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Sulawesi Barat)
Kutipan dari UNAIDS tersebut menegaskan bahwa keterlibatan pemuda secara bermakna adalah kunci dalam mengakhiri epidemi AIDS. UNAIDS, sebagai program gabungan PBB yang berdiri sejak 1996, menekankan pentingnya pendekatan inklusif dan terkoordinasi, dengan pendidikan serta pelibatan aktif generasi muda sebagai pilar utama. Artinya, keberhasilan dalam memutus rantai penularan HIV/AIDS tidak hanya bergantung pada sistem kesehatan, namun juga pada peran aktif anak muda dalam membangun kesadaran dan perubahan perilaku sejak dini. Sebagai generasi muda yang berkomitmen untuk berkontribusi, kami mahasiswa keperawatan memiliki peran strategis dalam memutus rantai penyebaran HIV/AIDS. Salah satu bentuk komitmen tersebut kami wujudkan melalui keikutsertaan dalam lomba esai ilmiah Alauddin Nursing Competition 2025 yang diselenggarakan oleh HMJ Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar. Dengan mengikuti kompetisi ini, kami terdorong untuk memahami isu HIV/AIDS secara lebih komprehensif serta menyalurkan gagasan yang berbasis literatur ilmiah. HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel CD4, dan bila tidak ditangani, dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) (WHO, 2024).
Menurut Marni (2020), individu usia muda berada pada tahap pencarian identitas yang rentan memunculkan perilaku-perilaku berisiko, sehingga menjadikan mereka kelompok yang berisiko tinggi terhadap HIV/AIDS. Kerentanan ini menegaskan pentingnya edukasi yang menyasar remaja dan dewasa muda agar mereka mampu memahami risiko serta cara pencegahannya sejak dini. Generasi Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1997 sampai 2012 dan kini mendominasi struktur demografi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2022), Gen Z mencakup sekitar 27,94% dari total populasi nasional. Dengan jumlah yang signifikan ini, Gen Z memegang 2 peranan strategis dalam berbagai aspek pembangunan, termasuk dalam menanggulangi penyebaran penyakit menular seperti HIV/AIDS.
Lebih lanjut, urgensi pelibatan Gen Z dalam isu HIV/AIDS diperkuat oleh data global dari UNAIDS (2019), yang mencatat sekitar 4.100 infeksi HIV baru terjadi setiap hari secara global, dan mayoritasnya berasal dari kelompok usia 15 hingga 24 tahun. Laporan terbaru UNAIDS (2024) mencatat bahwa pada tahun 2023 terdapat 1,3 juta infeksi HIV baru dan lebih dari 630.000 kematian akibat penyakit terkait AIDS di seluruh dunia. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI melaporkan 35.415 kasus baru HIV dan 12.481 kasus baru AIDS sepanjang tahun 2024, dengan mayoritas kasus ditemukan pada usia produktif 20 hingga 49 tahun. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa kelompok usia muda, termasuk Gen Z, merupakan salah satu kelompok yang paling terdampak dalam epidemi HIV/AIDS.
Setelah melihat tingginya angka kasus di usia muda pelaksanaan program pencegahan sejak dini menjadi sangat penting, khususnya melalui pendekatan edukatif yang berkelanjutan. Sebagai mahasiswa keperawatan, kami meyakini bahwa edukasi memiliki peran krusial dalam menekan penyebaran HIV/AIDS melalui peningkatan pengetahuan dan kesadaran generasi muda. Dengan pengetahuan yang baik, menjadikan Gen Z tidak hanya terlindungi dari risiko kesehatan, tetapi juga mampu mendorong perubahan positif di masyarakat sekitar.
Berbagai penelitian juga mendukung efektivitas pendekatan edukasi dalam menekan penyebaran HIV/AIDS. Penelitian oleh Sumakul et al. (2024) di SMK Negeri 1 Tomohon menunjukkan bahwa edukasi berbasis keterampilan hidup (life skills education) mampu meningkatkan pemahaman siswa tentang HIV/AIDS dan strategi pencegahannya. Siswa tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga keterampilan untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab dalam kesehariannya. Senada dengan itu, studi oleh Fauzi et al. (2023) di SMAN 2 Taliwang mengungkapkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan terkait HIV/AIDS memberikan dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa. Hal ini membuktikan bahwa institusi pendidikan memiliki peran vital dalam menyampaikan informasi yang benar dan membentuk sikap yang sehat terhadap isu-isu kesehatan.
Negara memiliki tanggung jawab melindungi generasi muda dari penyakit menular HIV/AIDS, pemerintah Indonesia telah merancang berbagai strategi nasional melalui program edukatif dan preventif. Salah satu inisiatif utama adalah Program Generasi Berencana (GenRe) yang diinisiasi oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program ini menyasar remaja dan mahasiswa, dengan fokus pada pembentukan karakter, peningkatan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, serta pencegahan perilaku berisiko, termasuk risiko penularan HIV/AIDS (BKKBN, 2022). Dalam implementasinya, GenRe memfasilitasi Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang tersebar di sekolah dan kampus, sebagai ruang edukasi dan pendampingan berbasis konseling sebaya. Strategi ini dirancang agar remaja lebih nyaman dalam mengakses informasi yang akurat dan terpercaya.
Tak hanya itu, Kementerian Kesehatan RI juga terus menguatkan strategi melalui program Test and Treat, yakni skrining dini dan pengobatan segera bagi individu yang terdiagnosis HIV. Program ini diperkuat oleh kampanye nasional yang digelar setiap Hari AIDS Sedunia, dengan pendekatan yang lebih inklusif dan adaptif terhadap gaya hidup generasi muda (Kemenkes RI, 2023).
Pemerintah juga mendorong keterlibatan lintas sektor, termasuk institusi pendidikan, LSM, dan tokoh masyarakat untuk menciptakan ekosistem edukasi yang mendukung literasi kesehatan. Strategi-strategi ini mencerminkan bahwa upaya pencegahan HIV/AIDS tidak cukup melalui pendekatan medis semata, tetapi juga perlu ditopang oleh intervensi edukatif yang sistematis dan berkelanjutan. Pendekatan ini menjadi pondasi penting dalam menciptakan generasi yang sadar, peduli, dan aktif menjadi pelopor dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di masyarakat.
Strategi edukasi HIV/AIDS di Indonesia terus dikembangkan dengan berbagai program preventif dan edukatif. Selain itu, praktek edukasi yang efektif juga telah diterapkan di negara lain, salah satunya Thailand. Di negara ini, diterapkan program Pendidikan Seksualitas Komprehensif (comprehensive sexuality education/CSE) yang dimulai sejak tingkat sekolah dasar, serta didukung oleh layanan kesehatan remaja yang mudah dijangkau dan bersifat ramah. Berdasarkan laporan UNESCO tahun 2019, inisiatif program ini telah memberikan kontribusi signifikan dalam mengurangi jumlah kasus infeksi HIV/AIDS baru di kalangan remaja hingga 50% dalam waktu sepuluh tahun 4 terakhir. Edukasi yang berbasis ilmu pengetahuan, dijalankan secara berkelanjutan, dan menyentuh berbagai aspek kehidupan remaja terbukti mampu meningkatkan kesadaran serta mendorong perubahan perilaku yang lebih sehat. Keberhasilan Thailand ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang terencana dan inklusif dapat memberikan dampak nyata. Strategi serupa dapat diadaptasi dan menjadi contoh penerapan di Indonesia dalam memperkuat upaya pencegahan HIV/AIDS sejak usia muda.
Sebagai generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital, kami menyadari bahwa media sosial memiliki peranan signifikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan Gen Z. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk membagikan momen pribadi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai alat yang sangat efektif untuk edukasi dan kampanye kesehatan, termasuk dalam isu HIV/AIDS. Melihat kedekatan Gen Z dengan teknologi, kami percaya bahwa media sosial memegang peranan penting dalam menyebarkan informasi yang tepat dan relevan mengenai langkah-langkah pencegahan HIV/AIDS. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube sangat populer di kalangan generasi muda, dan ini menjadi peluang besar bagi pemerintah, LSM, dan organisasi kesehatan untuk terlibat langsung dengan audiens ini.
Bagi kami, keberhasilan kampanye kesehatan melalui media sosial terletak pada kemampuannya untuk mengadaptasi konten yang sesuai dengan selera dan kebiasaan konsumsi informasi Gen Z. Video edukasi yang menarik di TikTok, infografis yang informatif di Instagram, atau vlog yang membahas topik-topik terkait HIV/AIDS di YouTube bisa menarik perhatian mereka. Lebih dari sekadar memberikan informasi, media sosial memungkinkan penciptaan dialog yang lebih interaktif dan langsung dengan audiens, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami dan diterima. Kami juga melihat potensi besar dalam penggunaan hashtag kampanye seperti #StopHIV/AIDS, yang dapat memperkuat gerakan kolektif di kalangan pengguna media sosial dan meningkatkan kesadaran lebih luas tentang pentingnya pencegahan HIV/AIDS. Dengan demikian, kami berpendapat bahwa kolaborasi antara pemerintah, LSM, dan influencer kesehatan di media sosial bisa menjadi solusi strategis yang efektif dalam mengedukasi generasi muda mengenai HIV/AIDS.
Menanggapi tantangan ini kami mengajukan sebuah kampanye edukasi yang kami beri nama #GenZHIVAware, yang mengedepankan pemanfaatan platform digital 5 populer seperti Instagram dan TikTok. Kampanye ini akan menghadirkan berbagai konten edukatif berupa video pendek seperti reels dan short video, serta mengadakan sesi live streaming yang menghadirkan penyintas HIV/AIDS dan tenaga kesehatan yang ahli di bidangnya. Dengan cara ini, kami berharap pesan-pesan pencegahan HIV/AIDS dapat diterima oleh generasi Z dengan cara yang lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami.
Sebagai langkah awal untuk kami memahami tingkat pengetahuan Gen Z mengenai HIV/AIDS, kami melakukan observasi melalui metode wawancara terhadap 50 responden berusia 19 hingga 25 tahun pada tanggal 27 Mei 2025. Proses ini dilakukan secara acak untuk mengetahui sejauh mana pemahaman generasi Z mengenai HIV/AIDS. Dalam penentuan hasil wawancara dilakukan dengan 4 indikator utama yakni : (1) menjawab dengan lengkap yakni mampu menjelaskan pencegahan dan penularan HIV/AIDS, (2) menjawab setengah, hanya mengetahui salah satu aspek, baik penularan maupun pencegahannya, (3) menjawab tidak tepat yakni jawaban keliru untuk pencegahan maupun penularannya, dan (4) tidak menjawab atau tidak mengetahui sama sekali pencegahan dan penularan HIV/AIDS.
Dari hasil wawancara di atas, diketahui bahwa sebanyak 15 responden (30%) menjawab lengkap untuk penularan dan pencegahannya, dan yang hanya menjawab setengah sebanyak 17 responden (34%), 5 responden (10%) memberikan jawaban tidak tepat atau salah, dan 13 responden (26%) tidak menjawab atau tidak mengetahui sama sekali. Menariknya, sebagian besar dari responden yang mampu memberikan jawaban lengkap dan benar berasal dari latar belakang pendidikan kesehatan, khususnya mahasiswa keperawatan dan kebidanan. Dari total 50 responden, sebanyak 23 orang (46%) merupakan mahasiswa dari bidang tersebut.
Jika ditelaah lebih lanjut, mahasiswa dari bidang kesehatan ini menunjukkan bahwa 12 responden (52,2%) mampu memberikan jawaban lengkap dan benar terkait penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Sementara itu, 6 responden (26,1%) hanya dapat menjawab sebagian aspek, 2 responden (8,7%) memberikan jawaban yang tidak tepat, dan 3 responden (13%) tidak mengetahui sama sekali. Sebagian besar responden yang berasal dari bidang pendidikan kesehatan, terutama keperawatan dan kebidanan, menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai HIV/AIDS, dengan memberikan jawaban benar dan lengkap terkait penularan dan pencegahannya. Hal ini menunjukkan 6 adanya kontribusi positif dari pembelajaran formal yang mereka terima di bangku kuliah. Namun demikian, temuan ini juga memperlihatkan bahwa tidak semua mahasiswa kesehatan memiliki pemahaman yang menyeluruh. Masih terdapat sebagian dari mereka yang memberikan jawaban keliru bahkan tidak mengetahui informasi dasar mengenai HIV/AIDS. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan edukatif yang lebih efektif, interaktif dan relevan dengan karakter Gen Z.
Sebagai calon perawat, kami menyadari bahwa tanggung jawab untuk membangun bangsa menuju generasi emas 2045 tidak hanya terbatas pada peran medis secara teknis, tetapi juga mencakup menjadi pelopor edukasi dan agen perubahan perilaku di masyarakat. Hal ini sejalan dengan teori Supportive-Educative dari Dorothea Orem, yang menegaskan bahwa perawat berperan membantu individu mengelola kesehatan mereka secara mandiri melalui edukasi dan dukungan yang tepat (Orem, 2001). Dalam konteks pencegahan HIV/AIDS, perawat memberikan informasi yang akurat dan membimbing generasi muda agar mampu mengambil keputusan sehat dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Teori ini menekankan bahwa edukasi kesehatan merupakan proses kolaboratif yang melibatkan pemahaman mendalam atas kebutuhan dan kemampuan klien. Dengan pendekatan Supportive-Educative, perawat dapat memberikan edukasi dini tentang HIV/AIDS secara sistematis, mulai dari pengetahuan dasar, cara penularan, hingga strategi pencegahan yang efektif. Edukasi ini tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga mendorong perubahan perilaku sejak usia muda untuk mencegah terjadinya infeksi baru. Oleh karena itu, peran perawat dalam kampanye edukasi seperti #GenZHIVAware sangat penting untuk membangun kepercayaan, mengurangi stigma, dan mengajak pemuda untuk aktif melakukan tindakan preventif dalam kehidupan sehari-hari.
Kami terus berupaya dan berkomitmen untuk mengembangkan diri, menggali potensi, dan memanfaatkan kesempatan belajar sebagai bagian dari kontribusi terhadap sistem kesehatan nasional. Keikutsertaan dalam kompetisi ini merupakan langkah kecil namun berarti, untuk menyuarakan pentingnya edukasi HIV/AIDS sejak dini, demi mewujudkan masyarakat yang sehat, sadar, dan tangguh menghadapi tantangan kesehatan global.
Kini saatnya kita bergerak bersama. Mari menjadi generasi yang peduli, berpikir kritis, dan bertindak nyata untuk mewujudkan Zero Infection di Indonesia.“Gas Peduli, Rem Risiko – Start dari Sekarang.


